,

Webinar “Keracunan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG)” Soroti Pentingnya Penguatan Pengawasan Keamanan Pangan

Yogyakarta, 17 Oktober 2025 — Bayu Satria Wiratama, MPH, Ph.D., dosen Departemen Biostatistik, Epidemiologi, dan Kesehatan Populasi (BEPH), menjadi narasumber dalam webinar bertajuk “Keracunan Pangan dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Pembelajaran dan Rekomendasi Perbaikan untuk Pencegahan.” Kegiatan yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi Zoom ini menarik perhatian para peserta yang berasal dari berbagai instansi dan pemangku kepentingan di bidang kesehatan masyarakat serta keamanan pangan.

Dalam paparannya, Bayu Satria membahas hasil kajian penerapan HACCP (Hazard Analysis and Critical Control Points atau Analisis Bahaya dan Titik Kendali Kritis) dalam penanganan kasus Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan yang terjadi pada program MBG. Ia menekankan bahwa pengawasan keamanan pangan harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari bahan baku hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

Pak Bayu mengungkapkan sejumlah temuan krusial dari hasil kajian lapangan. Salah satu temuan yang paling menjadi perhatian adalah adanya kasus di mana petugas mengetahui bahan baku sudah mulai rusak namun tetap menggunakannya dalam proses produksi makanan. Selain itu, proses pencucian bahan baku juga menjadi sorotan penting. Bayu mengingatkan bahwa air yang digunakan tidak boleh tercemar bakteri Escherichia coli karena dapat meningkatkan risiko keracunan bagi anak-anak sebagai penerima manfaat MBG.

Dalam aspek penyimpanan, ia menegaskan pentingnya menempatkan bahan baku sesuai ketentuan. “Bahan baku yang seharusnya disimpan di freezer jangan dibiarkan berada di suhu ruang karena dapat mempercepat proses pembusukan,” jelasnya. Ia juga menambahkan bahwa proses pemasakan harus dilakukan pada suhu yang tepat, serta pengawas perlu memahami indikator yang menunjukkan bahwa makanan sudah benar-benar matang. Quality control terhadap kematangan makanan menjadi langkah penting untuk memastikan tidak ada patogen yang tersisa.

Sementara itu, dalam tahap distribusi, Bayu mengungkapkan bahwa sebagian besar SPPG belum memiliki sistem final quality control sebelum makanan dikirimkan. Di beberapa lokasi, mobil boks juga tidak dilengkapi dengan pencatatan suhu atau pendingin yang memadai untuk menjaga stabilitas keamanan makanan selama pengiriman. Hal ini berpotensi meningkatkan risiko kerusakan makanan sebelum sampai di tangan para siswa.

Namun demikian, pak Bayu juga menyampaikan adanya praktik baik (good practice) yang dilakukan oleh beberapa SPPG. Salah satunya adalah adanya pengecekan kualitas akhir sebelum makanan dikirimkan. Dalam satu kasus, petugas menemukan makanan yang sudah rusak sehingga dapat dicegah penyebarannya dan menghindari perluasan KLB. Sayangnya, pada kejadian lain, makanan yang telah terlanjur dikirim tidak dapat ditarik kembali karena pihak sekolah khawatir tidak sempat menyiapkan menu pengganti untuk Program MBG.

Melalui webinar ini, pak Bayu menegaskan pentingnya konsistensi dalam penerapan standar keamanan pangan di seluruh tahapan produksi dan distribusi. Ia berharap pengalaman dan pembelajaran dari kasus KLB yang terjadi dapat menjadi dasar perbaikan sistem, sehingga pelaksanaan Program MBG di masa mendatang dapat berjalan lebih aman, higienis, dan memberikan manfaat optimal bagi siswa-siswi di seluruh Yogyakarta.

Penulis: Nanda Melania D.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *