Diagnosis Tepat Pengobatan Cepat
Yogyakarta, 5 Desember 2025 – Penyakit zoonosis menjadi salah satu jenis penyakit yang erat hubungannya dengan hewan yang berada di lingkungan sekitar tempat tinggal manusia, diantaranya adalah leptospirosis dan hantavirus. Kedua penyakit ini dibawa oleh binatang pengerat yang dekat dengan manusia, umumnya adalah tikus. Hampir setiap tahunnya kasus leptospirosis di laporkan oleh rumah sakit atau puskesmas di wilayah Dinas Kesehatan Provinsi D.I. Yogyakarta. Pada tahun 2025 diketahui di beberapa wilayah di Provinsi D.I.Yogyakarta mengalami peningkatan jumlah kasus leptospirosis dan ditemukan pula kasus Hantavirus.
Juli – Agustus 2025, Bayu Satria Wiratama, MPH., Ph.D., FRSPH selaku ketua pengabdian masyarakat menyelenggarakan webinar “Peningkatan Kapasitas Tenaga Medis dan Tenaga Kesehatan Pengelola Program Zoonosis (Leptospirosis dan Hantavirus) Dalam Deteksi Dini dan Tatalaksana Kasus di Provinsi D.I. Yogyakarta” bersama Departemen Biostatistik, Epidemiologi dan Kesehatan Populasi dengan bekerjasama dengan Pusat Kebijakan dan Manajemen Kesehatan (PKMK) FK-KMK UGM.
Kegiatan ini merupakan upaya meningkatkan kapasitas dalam menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang berasal dari kontaminasi udara, air dan tanah serta meningkatkan kapasitas sumber daya manusia terutama tenaga kesehatan. Selain itu, webinar ini adalah penerapan SDGs ke-3 yakni mewujudkan kehidupan sehat dan sejahtera bagi semua golongan usia.
Webinar ini merefresh kembali tentang tanda dan gejala, penegakan diagnosis, faktor risiko penularan hingga cara melakukan tindakan pencegahan.


Prof. dr. Eggy Arguni., Ph.D., Sp.A (K) menyampaikan bahwa leptospirosis merupakan penyakit dengan tingkat pelaporan yang rendah (under-reported) hal tersebut dapat sebabkan oleh beberapa hal diantaranya adalah kurangnya fasilitas diagnostik, kekurangan kit test yang handal hingga kurangnya kesadaran sektor kesehatan untuk melaporkan adanya kasus leptospirosis. Namun hal yang perlu di garis bawahi dan diperhatikan oleh tenaga kesehatan yakni pemberian diagnosis klinis yang tidak akurat (underdiagnosis) akibat infeksi subklinis, kesulitan diagnosis karena kemiripan tanda dan gejala, kesalahan diagnosis sebagai demam yang lain serta kurangnya kesadaran dokter/tenaga medis terhadap kasus leptospirosis akibat kurangnya familiar terhadap kasus leptospirosis. Dengan permasalahan tersebut, tenaga kesehatan terutama dokter perlu mewaspadai apabila bertemu pasien dengan faktor risiko penularan kasus leptospirosis.
Selain itu, dr. Alindina Anjani SpPD., FINASIM menyampaikan bahwa leptospirosis dan hantavirus memiliki definisi kasus yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan RI yang digunakan sebagai acuan. Dimana penularan kasus ini berbeda meskipun sama-sama berasal dari hewan pengerat. Perbedaannya terletak pada cara manusia terpapar dan jenis patogennya, leptospirosis menular melalui bakteri leptospira yang masuk kedalam tubuh manusia melalui luka yang terpapar oleh kencing tikus di tanah atau air sedangkan hantavirus disebabkan oleh virus yang masuk kedalam tubuh manusia melalui udara (aerosol) lewat debu yang terkontaminasi atau lewat luka dan mukosa.
Webinar ini dilaksanakan dalam dua sesi dengan jumlah peserta 152 orang dengan harapan dapat membantu tenaga kesehatan melakukan deteksi dini dengan tepat sehingga kasus mendapatkan pengobatan dengan cepat. Bayu satria wiratama selaku moderator menutup kegiatan dengan harapan webinar menjadi salah satu wadah untuk meningkatkan dan menambah pengetahuan tentang penyakit leptospirosis dan hantavirus sehingga tenaga kesehatan lebih familiar kembali terhadap tanda dan gejala yang sering ditemui.
Penulis: Vivin Fitriana
Penyunting: Bayu Satria Wiratama dan Nanda Melania Dewi
#SDGs4 #SDGs 3 #Leptospirosis #Hantavirus #Tikus #Webinar











Leave a Reply
Want to join the discussion?Feel free to contribute!