, ,

Menghidupkan Potensi Tempe dan Pisang untuk Kesehatan Ibu Hamil di Paliyan

Wilayah Paliyan di Gunungkidul menghadirkan cerita menarik tentang bagaimana masalah gizi dapat dijawab melalui kekuatan pangan lokal. Di Kapanewon Paliyan, proporsi ibu hamil dengan kekurangan energi kronis (KEK) dan anemia masih cukup tinggi, sehingga berisiko meningkatkan kemungkinan terjadinya stunting pada anak. Temuan ini menggerakkan tim Abdimas UGM untuk memanfaatkan dua bahan pangan yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat: tempe dan pisang. Keduanya melimpah, mudah diolah, dan terbukti kaya zat gizi yang dibutuhkan ibu hamil.
Kerja kolaboratif menjadi fondasi utama program ini. Dengan terjalinnya PKS antara FK-KMK UGM, PRTPP BRIN, IDI Gunungkidul, BPR BDG, dan Puskesmas Paliyan, rangkaian kegiatan dapat berjalan terarah dan saling menguatkan. BRIN mengambil peran penting dalam merumuskan resep produk dan menganalisis kandungan gizi produk PMT, memastikan bahwa setiap porsi yang diberikan kepada ibu hamil tidak hanya lezat, tetapi juga memenuhi kebutuhan gizi tambahan mereka.
Pelatihan pembuatan PMT berlangsung pada 9–10 September 2025 yang menjadi titik awal perubahan besar di dapur kader. Suasana pelatihan berlangsung hangat, penuh rasa ingin tahu, dan sarat percobaan resep. Kader belajar mengolah tempe dan pisang menjadi berbagai produk bergizi, mulai dari yang dikukus hingga dipanggang, sambil memahami aturan higienitas dan takaran nutrisi. Dari proses ini, mereka mulai memiliki kepercayaan diri bahwa pangan lokal bisa diubah menjadi intervensi gizi yang layak dan berkualitas.
Pemeriksaan kesehatan awal yang dilakukan sebelum distribusi PMT menyajikan gambaran jelas mengenai kondisi para ibu hamil. Dari 51 ibu yang diperiksa, 31,4% mengalami anemia dan 25,5% berisiko KEK. Data ini menjadi dasar penting untuk memantau dampak intervensi yang sedang berlangsung. Pemeriksaan lanjutan akan dilakukan pada Januari 2026 untuk melihat sejauh mana PMT berbasis pangan lokal dapat membantu memperbaiki status gizi mereka.
Setelah pelatihan, program memasuki tahap yang lebih dinamis ketika kader mulai mendistribusikan PMT kepada 51 ibu hamil di tujuh desa. Selama Oktober hingga Desember 2025, PMT diantarkan dua kali setiap minggu dengan total 24 kali pemberian. Jarak antar dusun yang jauh dan kondisi geografis yang bervariasi sempat menjadi tantangan, namun dukungan transportasi dan komitmen kader membuat distribusi tetap berjalan lancar. Setiap kunjungan membawa semangat baru bagi para ibu, sekaligus memperkuat kedekatan kader dengan masyarakat.
Selain pemberian PMT, tim juga memperkuat kapasitas kader melalui workshop kewirausahaan, komunikasi, dan kepemimpinan. Kegiatan ini membuka ruang bagi kader untuk memikirkan peluang keberlanjutan usaha pangan lokal. Beberapa kader mulai membayangkan bagaimana produk olahan tempe dan pisang dapat dipasarkan di lingkungan sekitar, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada intervensi gizi saja, tetapi juga merambah ke penguatan ekonomi keluarga.
Program ini menunjukkan bagaimana upaya sederhana yang berbasis potensi lokal dapat mendorong perubahan besar di tingkat komunitas. Ketika kader merasa mampu, ketika ibu hamil merasakan manfaatnya, dan ketika pemerintah desa serta puskesmas terlibat aktif, keberlanjutan bukan lagi sekadar rencana, tetapi mulai tumbuh sebagai kebiasaan baru di masyarakat. Dengan semangat kolaboratif yang sudah terbangun, pemanfaatan tempe dan pisang sebagai pangan bergizi di Paliyan berpotensi terus berkembang dan memberikan manfaat jangka panjang bagi kesehatan ibu dan anak.

Penulis: M. Ilham Gibran

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *