, ,

Mahasiswa FETP UGM Turut Perkuat Respons KLB Malaria di Kabupaten Rokan Hilir

Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, masih menghadapi tantangan dalam penanggulangan KLB malaria yang telah berlangsung sejak 2021 dan telah mengalami perpanjangan status KLB sebanyak 12 kali. Dalam situasi tersebut, mahasiswa Field Epidemiology Training Program (FETP) Universitas Gadjah Mada (UGM) turut terlibat dalam technical assistance untuk mendampingi Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir dan fasilitas pelayanan kesehatan dalam memperkuat respons epidemiologi di lapangan.
Penugasan berlangsung pada 6 Agustus hingga 2 September 2026 dan melibatkan Technical Assistant (TA) secara bertahap. Doni Ananda bertugas pada 6–19 Agustus dan Delfi Adriani pada 20 Agustus–2 September 2026. Pendampingan mencakup penguatan surveilans, penyelidikan epidemiologi (PE), analisis data, peningkatan kapasitas petugas, serta koordinasi tindak lanjut bersama lintas program dan lintas sektor.
Salah satu fokus utama pendampingan adalah penguatan kegiatan PE malaria. Berdasarkan hasil pemantauan selama penugasan, cakupan PE meningkat dari 25% pada awal pendampingan menjadi 47% pada akhir minggu kedua dan mencapai 63% pada akhir periode penugasan. Perkembangan tersebut menunjukkan adanya peningkatan pelaksanaan PE, meskipun kualitas dan konsistensi kegiatan di lapangan masih menjadi salah satu hal yang perlu diperkuat.
Penguatan kapasitas petugas juga dilakukan melalui rangkaian pelatihan yang dilaksanakan pada 21–29 Agustus 2026. Pelatihan pertama, pada 21–22 Agustus, berfokus pada penyelidikan epidemiologi dan analisis data surveilans. Selanjutnya, pada 26–27 Agustus dilaksanakan pelatihan entomologi dan mikroskopis, kemudian pada 28–29 Agustus dilanjutkan dengan pelatihan tata laksana malaria. Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya memberikan materi, tetapi juga dilengkapi dengan praktik dan tindak lanjut di lapangan.
Pendampingan tidak berhenti pada pengumpulan dan analisis data kasus. Tim juga melakukan assessment untuk memahami faktor lingkungan dan perilaku yang berkaitan dengan penularan malaria. Kajian lingkungan dan perilaku dilaksanakan secara formal dengan melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Rokan Hilir, Puskesmas terkait, dan Technical Assistant.
Dari assessment tersebut, ditemukan sejumlah faktor yang perlu menjadi perhatian, antara lain keberadaan tempat perindukan dan genangan air, kondisi drainase dan pengelolaan sampah, perubahan habitat mangrove, penggunaan kelambu, aktivitas masyarakat pada malam hari, perilaku pencarian pengobatan, kepatuhan terhadap pengobatan, serta persepsi masyarakat terhadap malaria. Temuan tersebut kemudian menjadi bahan pembahasan dalam beberapa rapat koordinasi dan turut menjadi masukan substantif dalam pembahasan lintas sektor, termasuk pertemuan yang berfokus pada penguatan Satuan Tugas (SATGAS) pada 1 September 2026.
Selain kegiatan tersebut, tim juga mendukung pemetaan desa reseptif menggunakan QGIS dan menyusun tindak lanjut bersama pemangku kepentingan. Namun, hingga akhir penugasan masih terdapat beberapa kebutuhan yang perlu diperkuat, antara lain peningkatan kualitas PE, pelaksanaan active finding of suspect (AFS), penyelesaian pemetaan desa reseptif, serta pembentukan mekanisme pertemuan SATGAS yang lebih rutin.
Keterlibatan mahasiswa FETP UGM dalam respons KLB malaria di Rokan Hilir menjadi bagian dari proses pembelajaran epidemiologi lapangan sekaligus bentuk dukungan terhadap respons kesehatan masyarakat. Pengalaman di lapangan memperlihatkan bahwa penanganan KLB membutuhkan lebih dari sekadar data kasus. Data surveilans perlu dianalisis dan diterjemahkan menjadi informasi yang dapat digunakan, sementara temuan epidemiologi, lingkungan, dan perilaku perlu dikomunikasikan agar dapat menjadi dasar tindak lanjut bersama.
Bagi mahasiswa FETP, pengalaman tersebut menjadi kesempatan untuk menerapkan kompetensi epidemiologi secara langsung dalam situasi nyata, mulai dari surveilans, PE, analisis data, assessment faktor risiko, pemetaan, hingga koordinasi lintas sektor. Proses tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa epidemiologi lapangan merupakan kerja kolaboratif yang membutuhkan kemampuan analisis, komunikasi, dan adaptasi terhadap dinamika di lapangan.
Melalui pengalaman penugasan di Rokan Hilir, FETP UGM terus mendorong pembelajaran berbasis lapangan yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan kebutuhan nyata dalam respons kesehatan masyarakat. Pengalaman tersebut diharapkan dapat memperkuat kapasitas epidemiolog lapangan dalam mendukung pengambilan keputusan berbasis bukti, khususnya dalam menghadapi situasi KLB dan masalah kesehatan masyarakat yang kompleks.

0 replies

Leave a Reply

Want to join the discussion?
Feel free to contribute!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *